Home » Opus » Kualifikasi Berganda Presiden Indonesia

Kualifikasi Berganda Presiden Indonesia

Untitled-1

Source : ibmtuniversity.wordpress.com

Para penguyah ilmu biologi pasti sudah tidak asing dengan derajat organisasi makhluk hidup. Di sana diceritakan bahwa makhluk hidup tersusun dari molekul-molekul yang melewati berbagai senyawa untuk menjadi sel dan terus berproses menjadi organisme.

Tangan manusia awalnya berbentuk seperti dayung. Selanjutnya sebagian sel-sel pun mati sehingga tangan terbentuk dengan jari-jari dan dapat berfungsi normal. Dalam perjalanan hidup dari bayi hingga dewasa, manusia mengalami kekurangan jumlah tulang di tubuhnya karena sebagian tulang itu saling menyambung demi membentuk tulang yang lebih kuat.

Kemudian kita bicara sepakbola. Dalam sebuah permainan, agar dapat menendang bola secara akurat dan bertenaga, seorang pemain yang hendak mengambil tendangan penalti akan mundur dulu beberapa langkah ke belakang, mengumpulkan fokus dan energi, kemudian bergerak ke depan menendang bola menuju gawang lawan.

Dari ilmu biologi kita belajar bahwa alam berproses dengan melakukan pengorbanan dan kerja sama. Adigang, adigung, adiguna tidak berlaku di alam. Tidak ada sel atau jaringan yang lebih ampuh dibanding yang lain. Sementara dari sepakbola kita belajar bahwa untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, seseorang harus mundur ke belakang berintrospeksi, berupaya memperbaiki diri lalu bergerak lagi kepada tujuan.

Dalam semesta kepemimpinan sebuah negara, himpunan kesadaran akan kesediaan berkorban, bekerjasama dan upaya perbaikan diri menjadi perihal yang penting. Dari sanalah akan muncul contoh nyata berupa tindakan dari seorang pemimpin yang bisa menjadi inspirasi bagi rakyatnya. Konon, demi bisa survive dari kehancuran akibat bom atom pada Perang Dunia II, kaisar Jepang memutuskan hanya makan ikan teri hingga Jepang bisa bangkit lagi.

Seorang pemimpin menunjukkan cara melakukan sesuatu bukan menyuruh melakukan sesuatu. Ia menunjukkan arah, bukan memberi perintah. Ia bertindak, bukan mengajak. Ia mengakui kesalahan, bukan mencari sasaran kesalahan. Maka dengan menyedikitkan keakuan, tidak merasa benere dhewe atau benar sendiri, melakukan introspeksi dan berupaya memperbaiki diri, seseorang sebenarnya sudah menjadi pemimpin dengan sendirinya.

Lebih mumpuni

Sekarang sandingkan pelajaran tentang kepemimpinan dari biologi dan sepakbola dengan kualifikasi presiden Indonesia berikutnya, lalu kaitkan semua itu dengan situasi Indonesia sebagai negara raksasa dengan permasalahan-permasalahan besar mendasar, panjang mengular dan rumit melilit-lilit yang harus dicarikan solusinya. Maka presiden Indonesia berikutnya –tidak bisa tidak- harus memiliki kualifikasi yang lebih mumpuni dan lebih lengkap dibanding presiden-presiden sebelumnya.

Presiden Indonesia berikutnya harus punya kekhasan yang lebih bisa diandalkan. Bukan cuma pintar mengelola visualisasi lahiriah agar terlihat mengesankan. Bukan sekadar populer dan dipuja-puja membabi buta. Bukan sekadar pernah mendapat pendidikan di tempat yang bergengsi. Bukan juga karena sukses berbisnis dan menjadi orang kaya.

Presiden Indonesia berikutnya tidak boleh menjadi presiden hanya karena berlindung di bawah payung kebaikan the mighty democracy yang selalu mempersilakan semua orang untuk tampil. Saya yakin rakyat Indonesia adalah rakyat yang sangat pintar, yang cukup paham bahwa meski sekarang adalah masa-masa yang membolehkan siapa saja untuk menyodorkan diri jadi presiden, tapi bukan berarti sembarang orang boleh menjadi presiden di negeri ini.

Presiden Indonesia berikutnya tidak boleh menjadi presiden hanya karena berlindung di bawah payung kebaikan the mighty democracy yang selalu mempersilakan semua orang untuk tampil.

Kalau mengacu pada referensi artistik, kiasan terhadap sosok presiden atau pemimpin bisa ditemukan dalam lagu “Gundul-Gundul Pacul”. Baitnya berbunyi ‘Gundul-gundul pacul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul gembelengan, wakul ngglempang segane dadi sak ratan’. Gundul pacul membawa wakul tidak berhati-hati, wakulnya terguling nasinya tumpah ke sana-sini

Gundul adalah polos, artinya tanpa pamrih atau balasan. Pacul atau cangkul artinya kerja keras. Gembelengan dimaknai sebagai sombong, ceroboh. Nyunggi artinya membawa di atas kepala. Wakul adalah sebuah wadah. Ngglempang adalah terguling. Sega adalah nasi. Dadi sak ratan, tumpah di jalanan, maksudnya adalah berantakan.

Jika diaplikasikan dalam ilmu mengatur negara atau potensi wilayah, maka wakul dan nasi adalah negara, wilayah, rakyat dan potensi sumber daya yang dimiliki negara. Orang yang menyungginya adalah presiden atau pemimpinnya. Wakul dibawa di atas kepala, posisinya lebih tinggi dari kepala orang yang membawanya. Artinya, posisi presiden ada di bawah rakyatnya.

Makna besarnya, seorang presiden seharusnya adalah sosok yang tanpa pamrih terus bekerja keras, berdedikasi dalam mengemban amanat yang dipercayakan kepadanya, agar rakyat dan negara yang disungginya tidak terguling dan kacau-balau.

Harus pantas.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa presiden harus meletakkan rakyat sebagai fokus utamanya. Mata presiden harus digunakan untuk melihat rakyatnya, telinganya untuk mendengarkan rakyatnya, hatinya untuk merasakan rakyatnya, otaknya untuk memikirkan rakyatnya, jasadnya bergerak untuk rakyatnya, jiwanya harus terus menerus memiliki kesadaran tentang rakyatnya.

Leadershio (source : theguardian.com)

Leadershio (source : theguardian.com)

Presiden harus memiliki mental berkorban. Tahan banting sekaligus berhati lembut, tidak boleh mengeluh tentang penderitaannya sendiri dan tidak tahan melihat penderitaan rakyatnya seraya bertindak mencari solusi.

Presiden harus terus belajar mencari keseimbangan saat menyunggi rakyat, jangan sampai goyah apalagi jatuh tercerai berai. Presiden harus empan papan, paham bahwa posisi dan tugasnya adalah untuk kepentingan rakyatnya.

Presiden tidak boleh memandang dirinya selalu benar –secara sikap maupun keilmuan- agar selalu menyadari kesalahannya dan keterbatasan ilmunya. Konsepnya adalah kerja sama saling melengkapi, bukan merasa paling ahli.

Presiden harus pintar mengolah potensi dan keunggulan yang dimiliki negara dan labanya harus diberikan kepada rakyat, tidak kepada yang lain. Presiden atau pemimpin harus memenuhi tanggung jawabnya dalam bekerja. Harus merasa malu, bersalah dan meminta maaf kepada rakyat atas apa yang belum berhasil dibereskannya. Tidak mengunggul-unggulkan apa yang sudah dicapainya.

Maka presiden Indonesia berikutnya harus merupakan sosok yang benar, baik dan pantas menjadi presiden. Bukan hanya sekadar benar dan baik saja. Kalau benar secara konstitusional, baik secara demokrasi, tapi tidak pantas secara niat, watak, perilaku dan kemampuan, itu sama saja luwih aji godhong garing. Tidak lebih berharga daripada daun kering alias tidak berguna. [1 April 2014/azraeldana/kimintli]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: